BERANDAKU.COM – PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi 2 Bandung menegaskan larangan bagi masyarakat untuk beraktivitas di jalur rel kereta api selama bulan Ramadan, terutama pada waktu-waktu rawan seperti setelah sahur dan menjelang berbuka puasa.
Manager Humasda KAI Daop 2 Bandung, Kuswardojo, mengatakan jalur rel bukanlah ruang publik yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan warga.
“Kami mengingatkan dengan tegas bahwa jalur kereta api adalah area terbatas yang diperuntukkan khusus bagi operasional perjalanan kereta api. Aktivitas apa pun di ruang manfaat jalur rel sangat membahayakan,” ujarnya, Jumat (20/2/2026).
Menurutnya, pada momen Ramadan masih ditemukan warga yang berjalan santai, berolahraga, ngabuburit, hingga berfoto di sekitar rel. Padahal, perjalanan kereta tetap beroperasi normal dengan kecepatan tinggi dan tidak dapat berhenti secara mendadak.
“Kereta api membutuhkan jarak pengereman yang cukup panjang. Masinis tidak bisa menghentikan kereta secara tiba-tiba ketika ada orang di lintasan,” tegasnya.
Larangan tersebut telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2007 tentang Perkeretaapian, khususnya Pasal 181 ayat (1), yang melarang setiap orang berada di ruang manfaat jalur kereta api atau menggunakan jalur untuk kepentingan lain di luar angkutan kereta api. Pelanggaran terhadap aturan ini dapat dikenakan sanksi pidana maupun denda sesuai ketentuan yang berlaku.
Ruang manfaat jalur kereta api meliputi rel, bantalan, wesel, jembatan, terowongan, serta area di sisi kiri dan kanan rel yang menjadi bagian dari sistem operasional. Selain berisiko tertabrak kereta, terdapat pula potensi bahaya tersengat listrik pada jalur tertentu maupun risiko terjatuh.
KAI Daop 2 Bandung menyatakan akan terus melakukan patroli dan sosialisasi kepada masyarakat di sekitar jalur rel, serta berkoordinasi dengan aparat kewilayahan dan komunitas setempat guna meningkatkan kesadaran keselamatan.
Pihaknya mengajak para orang tua untuk mengawasi anak-anaknya agar tidak bermain di sekitar rel. Dia berpesan bahwa keselamatan adalah tanggung jawab bersama.
“Jangan sampai Ramadan yang seharusnya penuh berkah justru diwarnai kejadian yang tidak diinginkan,” pungkasnya.













