banner 728x250
News  

Kemenag Jabar Pantau Hilal di Enam Titik untuk Penetapan Awal Ramadan

banner 468x60

BERANDAKU.COM – Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Provinsi Jawa Barat mencatat terdapat enam titik pemantauan hilal yang tersebar di sejumlah daerah di Jawa Barat. Pemantauan tersebut dilakukan sebagai bagian dari proses penentuan awal Ramadan melalui rukyatul hilal yang hasilnya akan dilaporkan ke pemerintah pusat.

Kepala Kanwil Kemenag Jabar, Dudu Rohman, mengatakan enam titik tersebut berada di wilayah Banjar, Subang, Sukabumi, Bandung, Cirebon, dan Pangandaran. Seluruh lokasi pemantauan akan menjadi rujukan resmi dalam pelaksanaan sidang isbat yang digelar pemerintah.

Example 300x600

“Untuk pemantauan hilal yang nantinya menjadi dasar penetapan 1 Ramadan di Jawa Barat, ada enam titik yang akan dilaporkan ke pusat,” ujar Dudu saat ditemui di kantor PCNU Kota Tasikmalaya, Selasa 17 Februari 2026.

Ia menjelaskan, beberapa daerah melakukan pemantauan secara bersama-sama di titik yang telah ditentukan. Wilayah Kota Bandung dan Sumedang, misalnya, melaksanakan rukyat di kawasan Universitas Islam Bandung.

“Sementara untuk wilayah Tasikmalaya, Kabupaten Tasikmalaya, dan Ciamis bergabung melakukan pemantauan di Banjar,” katanya.

Dudu menambahkan, wilayah Indramayu dan Majalengka bergabung dengan Cirebon yang dipusatkan di kawasan pantai setempat. Adapun Kota Bekasi, Kabupaten Bekasi, Purwakarta, dan Karawang melakukan pemantauan di Subang.

Sedangkan wilayah Kota Bogor, Kabupaten Bogor, Depok, dan Cianjur bergabung di Sukabumi, tepatnya di Pos Observasi Bulan (POB) Cibeas. Khusus Pangandaran, pemantauan dilaksanakan secara mandiri di kawasan pesisir.

Menurut Dudu, setiap titik pemantauan akan menyampaikan laporan hasil rukyat yang kemudian dibahas dalam sidang isbat yang melibatkan berbagai pihak, termasuk ahli falak dan perwakilan organisasi kemasyarakatan Islam.

“Setiap titik akan dilaporkan melalui sidang isbat yang melibatkan para ahli, baik ahli falak maupun perwakilan ormas Islam,” katanya.

Terkait kemungkinan adanya perbedaan awal Ramadan, Dudu mengimbau masyarakat untuk saling menghormati perbedaan metode yang digunakan, baik hisab maupun rukyat, karena masing-masing memiliki dasar perhitungan yang jelas.

“Semua pihak memiliki acuan dan metode masing-masing. Yang terpenting adalah saling menghormati jika terjadi perbedaan,” ujarnya.

Ia juga memastikan bahwa lokasi pemantauan hilal tahun ini tidak mengalami perubahan dan masih menggunakan titik-titik yang selama ini telah menjadi lokasi rutin pengamatan. Selain itu, peralatan yang digunakan pun bervariasi, mulai dari metode tradisional hingga perangkat modern untuk memastikan akurasi pengamatan.

Pemantauan hilal tersebut diharapkan dapat memberikan data yang akurat sebagai dasar penetapan awal Ramadan secara resmi oleh pemerintah. ***

banner 325x300
banner 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *