BERANDAKU.COM – Pemerintah Desa Pusparaja, Kecamatan Cigalontang, Kabupaten Tasikmalaya, terus menggencarkan upaya penurunan angka stunting melalui kolaborasi lintas sektor. Hasilnya, dalam kurun tiga tahun terakhir, jumlah balita stunting di desa tersebut menunjukkan tren penurunan signifikan.
Kepala Desa Pusparaja, Ajo Sutarjo, mengungkapkan bahwa angka stunting di desanya pada tahun 2023 tercatat sebanyak 24 kasus. Angka tersebut kemudian turun menjadi 13 kasus pada tahun 2024, dan kembali menurun menjadi 11 kasus pada tahun 2025.
“Mudah-mudahan tahun 2026, setelah dilakukan pengecekan bulan ini, bisa turun sampai 8 atau bahkan 7 kasus,” ujarnya.
Menurut Ajo, penurunan tersebut tidak lepas dari sinergi antara pemerintah desa dengan berbagai pihak, mulai dari pemerintah kecamatan, KB kecamatan, kader Posyandu, hingga tokoh agama di tingkat desa.
Ia menjelaskan, dana desa juga dialokasikan secara khusus untuk penanganan stunting. Anggaran tersebut digunakan untuk penyediaan makanan tambahan bergizi bagi balita stunting, serta pengadaan perlengkapan penunjang yang mendukung perbaikan gizi.
Selain itu, pendekatan sosial dan edukasi turut diperkuat melalui peran alim ulama dan kegiatan pengajian di tingkat desa. Dalam setiap kesempatan, pesan tentang pentingnya peningkatan gizi anak dan kepedulian terhadap tumbuh kembang balita terus disampaikan kepada masyarakat.
“Alim ulama desa di tiap pengajian menyampaikan pentingnya meningkatkan gizi dan kepedulian terhadap anak. Kita semua harus aware. Masa kepala desa tidak tahu berapa anak yang stunting di Pusparaja,” tegasnya.
Untuk tahun 2026, Pemerintah Desa Pusparaja, kata Ajo menargetkan angka stunting bisa ditekan hingga di bawah 10 kasus, dengan harapan mencapai 8 bahkan 7 kasus. Target tersebut akan dievaluasi melalui pengecekan dan pendataan ulang yang dijadwalkan dalam waktu dekat.
Selain intervensi gizi langsung, desa juga akan mendapatkan dukungan program dari Dinas Sosial bidang Keluarga Berencana (KB) di tingkat kabupaten. Program tersebut dirancang untuk memberdayakan orang tua yang memiliki anak stunting melalui kegiatan produktif yang berkaitan dengan sumber pangan bergizi.
Program yang digagas oleh Dinas Sosial dan Kabid KB akan membantu Pusparaja dengan program yang luar biasa. “Orang tua yang mempunyai anak stunting akan diberikan program yang berhubungan dengan telur, maggot, ikan, dan lainnya,” katanya.
Program tersebut, kata Ajo, diharapkan tidak hanya meningkatkan asupan protein hewani bagi anak, tetapi juga menambah penghasilan keluarga sehingga ketahanan pangan rumah tangga menjadi lebih baik.
Dalam pelaksanaannya, kader Posyandu berperan penting dalam pendataan, pemantauan tumbuh kembang balita, serta pendampingan keluarga berisiko stunting. Setiap bulan dilakukan penimbangan dan pengukuran tinggi badan untuk memastikan kondisi anak terpantau secara berkala.
Pemerintah desa juga menekankan pentingnya keterbukaan data dan tanggung jawab bersama. Ajo mengaku terus memantau langsung perkembangan jumlah kasus sebagai bentuk komitmen terhadap kesehatan generasi muda.
“Kami optimistis target penurunan kembali pada tahun 2026 dapat tercapai, selama sinergi dan partisipasi masyarakat tetap terjaga,” tandasnya.













