banner 728x250

Garut Tempo Doeloe: Jejak Priangan Pada Masa Kolonial

banner 468x60

BERANDAKU.COM – Selamat datang di ruang waktu, tempat ingatan visual membawa kita kembali ke Garut pada dekade 1910-1920-an sebuah masa ketika tanah Priangan dikenal luas sebagai “Swiss van Java”. Melalui lensa kamera para fotografer masa kolonial, kita diajak menelusuri wajah Garut tempo dulu: bentang alamnya yang memesona, hotel-hotel megah yang menjadi persinggahan kaum elite, serta bangunan-bangunan yang menandai transformasi kota di bawah administrasi Hindia Belanda.

Pada awal abad ke-20, kawasan Cipanas telah berkembang menjadi tujuan wisata unggulan. Pemandian air panas di kaki Gunung Guntur dan panorama pegunungan yang mengelilingi kota menghadirkan lanskap eksotis yang dipromosikan secara luas oleh pemerintah kolonial. Foto-foto yang dipamerkan memperlihatkan hamparan kebun, jalan-jalan tanah yang membelah perbukitan, serta suasana pedesaan yang masih alami sebuah Garut yang tenang, namun perlahan bergerak menuju modernitas kolonial.

Example 300x600

Salah satu ikon kejayaan pariwisata masa itu adalah Hotel Papandayan, hotel termewah di Priangan pada masanya. Bangunan bergaya arsitektur kolonial dengan sentuhan tropis ini berdiri megah, menjadi simbol eksklusivitas dan kemewahan. Tidak jauh darinya, berdiri pula Hotel Ngamplang di kawasan dataran tinggi, menawarkan pemandangan lapangan golf dan pegunungan yang memukau. Melalui foto-foto hitam putih yang tersaji, kita dapat melihat bagaimana hotel-hotel tersebut bukan sekadar tempat menginap, tetapi juga ruang sosial tempat bertemunya pejabat kolonial, pengusaha perkebunan, dan wisatawan Eropa.

Bangunan-bangunan pemerintahan dan fasilitas umum yang muncul dalam dokumentasi visual ini mencerminkan tata kota yang mulai tertata rapi. Jalan raya yang lebar, jembatan kokoh, serta kantor-kantor administrasi menunjukkan hadirnya sistem kolonial yang terstruktur. Di balik kemegahan arsitektur itu, tersirat dinamika sosial: kerja paksa, sistem perkebunan, dan stratifikasi masyarakat yang menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah masa tersebut.

Namun, pameran ini tidak semata menghadirkan romantisme visual. Ia juga mengajak kita membaca ulang sejarah. Foto-foto ini adalah arsip jejak yang membekukan waktu. Mereka menjadi saksi bagaimana identitas Garut dibentuk oleh interaksi antara alam, kolonialisme, dan masyarakat lokal. Di antara lanskap indah dan bangunan megah, tersimpan kisah tentang daya tahan, adaptasi, dan perubahan.

Melalui pameran ini, kami mengundang Anda untuk tidak hanya melihat, tetapi juga merasakan denyut zaman itu. Membayangkan suara delman di jalanan kota, percakapan dalam bahasa Belanda di beranda hotel, serta aktivitas masyarakat pribumi yang menjadi bagian penting dari denyut kehidupan Garut tempo dulu.

Garut hari ini adalah hasil perjalanan panjang sejarahnya. Dengan menatap foto-foto dari era 1910-1920-an ini, kita tidak sekadar mengenang masa lalu, tetapi juga merawat ingatan kolektif agar sejarah tetap hidup dan memberi makna bagi generasi kini dan mendatang. ***

banner 325x300
banner 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *