BERANDAKU.COM– Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah resmi menetapkan awal 1 Ramadhan 1447 Hijriah jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026. Penetapan ini berpotensi kembali berbeda dengan versi pemerintah, mengingat Muhammadiyah menggunakan metode perhitungan yang spesifik dan mandiri.
Lantas, bagaimana cara Muhammadiyah menentukan dimulainya bulan suci tersebut?
Muhammadiyah memedomani metode Hisab Hakiki Wujudul Hilal. Mengutip situs resmi Muhammadiyah, “Hisab Hakiki” berarti perhitungan yang mengacu pada gerak faktual Bulan di langit. Artinya, awal dan akhir bulan kamariah ditentukan berdasarkan kedudukan perjalanan benda langit tersebut secara presisi.
Kriteria utama dalam metode ini adalah Wujudul Hilal. Dalam pandangan ini, bulan baru dianggap dimulai jika Matahari terbenam lebih dahulu daripada Bulan, meskipun hanya selisih satu menit atau kurang.
Secara teknis, ada tiga syarat kumulatif yang harus terpenuhi pada hari ke-29 saat Matahari terbenam:
-
Telah terjadi ijtimak (konjungsi) antara Bulan dan Matahari.
-
Ijtimak terjadi sebelum Matahari terbenam.
-
Pada saat Matahari terbenam, piringan atas Bulan masih berada di atas ufuk.
Jika salah satu syarat tidak terpenuhi, maka bulan berjalan akan digenapkan menjadi 30 hari (istikmal).
Baca Juga : Bukan Misi Tempur! Kemlu Pertegas Mandat 8.000 Pasukan RI di Gaza Hanya untuk Kemanusiaan
Untuk penentuan Ramadhan 1447 H kali ini, Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Rahmadi Wibowo, menjelaskan adanya penggunaan
Berbeda dengan kriteria lokal, KHGT mengusung prinsip one day, one date globally (satu hari, satu tanggal di seluruh dunia). Prinsip ini memandang Bumi sebagai satu kesatuan matla’ tanpa pembagian zona regional.
“Kalau Bumi dibagi ke dalam zona-zona penanggalan, maka tidak mungkin terjadi keseragaman hari dan tanggal,” jelas Rahmadi dalam Pengajian Tarjih, Rabu (28/1).
Dalam sistem KHGT, bulan baru dimulai serentak jika sebelum pukul 24.00 GMT terdapat wilayah daratan di Bumi yang memenuhi dua syarat:
-
Elongasi Bulan-Matahari: Minimal 8 derajat.
-
Ketinggian Hilal: Minimal 5 derajat saat Matahari terbenam.
Penggunaan metode hisab dinilai lebih pasti untuk menyusun kalender jangka panjang dibandingkan metode rukyah (pemantauan mata telanjang) yang hanya bisa memastikan satu bulan ke depan. Dengan pengumuman lebih awal ini, warga Muhammadiyah dan masyarakat umum dapat mulai mempersiapkan diri menyambut bulan suci Ramadan yang tinggal hitungan hari.***









