BERANDAKU.COM– Puasa Ramadan bukan sekadar pemenuhan kewajiban ibadah, melainkan sebuah momentum “servis besar” bagi metabolisme manusia. Di Indonesia, dengan durasi puasa rata-rata 13 hingga 14 jam, tubuh manusia ternyata melakukan adaptasi metabolik yang luar biasa untuk menjaga keseimbangan energi.
Saat perut kosong dalam rentang waktu tersebut, tubuh tidak langsung lemas. Sebaliknya, organ dalam mulai mengatur ulang sumber energi, mulai dari penurunan insulin hingga aktivasi perbaikan sel alami.
Melansir data kesehatan NDTV, berikut adalah 6 proses penting yang terjadi pada tubuh saat Anda menjalani puasa selama 12 jam atau lebih:
1. Kadar Gula Darah Menjadi Lebih Stabil
Beberapa jam setelah sahur, tubuh akan mulai menggunakan cadangan glukosa sebagai energi. Saat asupan baru terhenti, kadar insulin perlahan menurun. Hal ini justru membuat tubuh lebih sensitif terhadap hormon tersebut, yang dalam jangka panjang sangat efektif menurunkan risiko resistansi insulin dan menjaga stabilitas gula darah.
2. Penurunan Berat Badan Secara Alami
Puasa otomatis memutus kebiasaan makan larut malam (late-night snacking). Pembatasan jendela makan ini secara alami mengurangi asupan kalori harian tanpa perlu aturan diet yang menyiksa. Inilah mengapa puasa dianggap sebagai metode penurunan berat badan yang paling berkelanjutan.
3. Aktivasi ‘Autophagy’ atau Pembersihan Sel
Salah satu proses paling menakjubkan adalah autophagy. Ini adalah kondisi di mana sel-sel tubuh mulai mendaur ulang komponen yang rusak secara mandiri. Dengan memberi jeda makan 12 jam, tubuh mendapatkan sinyal untuk menjalankan “fungsi pemeliharaan” ini, yang krusial untuk mencegah penyakit kronis.
4. Waktu Istirahat bagi Sistem Pencernaan
Saat berpuasa, usus halus menjalankan mekanisme Migrating Motor Complex (MMC). Ini adalah gelombang pembersihan yang menyapu sisa makanan dan bakteri dari saluran cerna. Hasilnya, gejala kembung berkurang dan kesehatan usus meningkat secara signifikan.
5. Peningkatan Kualitas Tidur
Jika Anda mengakhiri waktu makan lebih awal (saat berbuka yang terukur), tubuh tidak lagi terbebani aktivitas mencerna makanan yang berat saat waktu tidur tiba. Energi tubuh dapat difokuskan sepenuhnya pada pemulihan organ, membuat tidur terasa lebih nyenyak dan detak jantung lebih stabil.
6. Penurunan Level Peradangan (Inflamasi)
Pembatasan waktu makan terbukti secara ilmiah membantu menurunkan peradangan kronis dalam tubuh. Proses ini berkaitan erat dengan perbaikan tekanan darah, kadar kolesterol, dan penyeimbangan kembali respons imun tubuh.
Meskipun puasa memberikan segudang manfaat, para ahli mengingatkan bahwa hasil pada setiap individu bisa berbeda. Kunci utamanya tetap terletak pada kualitas nutrisi saat berbuka dan sahur. Puasa 12 jam lebih dari sekadar menahan lapar; ini adalah cara alami tubuh untuk melakukan reset metabolisme secara menyeluruh.***













