BERANDAKU.COM – Suasana Pasar Ikan di Pasar Tradisional Singaparna tak lagi seramai tahun-tahun sebelumnya. Memasuki Ramadhan, yang biasanya menjadi momentum peningkatan penjualan, justru kini diwarnai lapak-lapak yang lengang dan omzet pedagang yang terus merosot.
Jika pada awal puasa tahun-tahun lalu pembeli berdesakan mencari berbagai jenis ikan segar, Ramadhan kali ini menghadirkan pemandangan berbeda. Jumlah konsumen menurun drastis. Banyak warga kini memilih membeli ikan dari pedagang kolam yang membuka lapak lebih dekat dengan lingkungan tempat tinggal mereka.
Mamat, salah seorang pedagang yang telah puluhan tahun berjualan di pasar tersebut, mengaku penurunan terasa signifikan tahun ini.
“Sekarang sepi. Biasanya kalau Ramadhan bisa jual puluhan kilo sehari. Sekarang paling banyak 15 kilo, kadang cuma 5 kilo,” ujar Mamat di lapaknya, Selasa (24/2/2026).
Menurut dia, pada tahun-tahun sebelumnya, terutama sepekan menjelang puasa hingga mendekati Lebaran, satu pedagang bisa menjual hingga 50 kilogram ikan per hari. Kondisi itu berbanding terbalik dengan situasi saat ini.
“Mungkin karena pengunjung pasar makin berkurang. Banyak yang lebih memilih beli ke pedagang kolam dekat rumah,” katanya.
Kondisi tersebut turut dibenarkan Kepala Pengelola Pasar Ikan Singaparna, Ujang. Ia menyebut menjamurnya pedagang ikan mandiri di berbagai wilayah menjadi salah satu penyebab utama merosotnya transaksi di pasar tradisional.
“Sekarang banyak yang buka lapak sendiri di luar. Dampaknya jelas, penjualan di pasar turun drastis,” ujarnya.
Ujang memaparkan, pada 2010 Pasar Ikan Singaparna masih berada di masa kejayaan. Saat itu tercatat sekitar 80 pedagang aktif berjualan. Pembelinya pun tidak hanya berasal dari wilayah Kabupaten Tasikmalaya, tetapi juga dari Garut, Sumedang, Ciamis hingga Cilacap.
Dalam sehari, total penjualan seluruh pedagang kala itu bisa mencapai 3 hingga 5 kuintal berbagai jenis ikan.
Namun seiring waktu, satu per satu pedagang memilih hengkang dan membuka usaha secara mandiri di daerahnya masing-masing. Saat ini, jumlah pedagang aktif yang tersisa hanya 18 orang.
“Mereka dulu juga pedagang di sini. Karena mungkin sepi, akhirnya cari alternatif buka sendiri,” kata Ujang.
Penurunan jumlah pedagang dan pembeli ini menjadi tantangan serius bagi keberlangsungan Pasar Ikan Singaparna. Jika tren ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin pasar yang dulu menjadi pusat distribusi ikan di wilayah Tasikmalaya selatan itu kian kehilangan denyutnya.













