BEIJING, BERANDAKU.COM – Ketegangan di Selat Taiwan kembali mencapai titik didih. Pemerintah China melontarkan kecaman keras terhadap Presiden Taiwan, Lai Ching-te, dengan menyebutnya sebagai “penyulut perang” dan “pencipta krisis” menyusul pernyataan vokal sang presiden terkait ambisi ekspansionis Beijing.
Kemarahan Beijing ini dipicu oleh wawancara khusus Lai Ching-te dengan media internasional. Dalam wawancara tersebut, Lai mewanti-wanti bahwa jika China berhasil menduduki Taiwan, ambisi Beijing tidak akan berhenti. Ia memperingatkan bahwa negara-negara di kawasan Indo-Pasifik, terutama Jepang dan Filipina, bisa menjadi target aneksasi berikutnya.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, menegaskan bahwa apa pun yang disampaikan oleh pemimpin Taiwan tidak akan mengubah status hukum pulau tersebut di mata Beijing.
“Pernyataan Lai Ching-te memperlihatkan sikap keras kepala yang pro-kemerdekaan, sekaligus membuktikan ia adalah pengganggu perdamaian, pencipta krisis, dan penyulut perang,” kata Lin Jian dalam konferensi pers rutin, dikutip dari AFP, Kamis (12/2/2026).
Lin Jian menambahkan bahwa Taiwan tetap merupakan bagian tak terpisahkan dari wilayah China. Ia juga menilai upaya Taiwan mencari dukungan asing, termasuk memperkuat hubungan dengan Eropa dan Amerika Serikat, adalah tindakan yang keliru dan dipastikan akan gagal.
Baca Juga : Purbaya Bidik Pertumbuhan Ekonomi 6 Persen, Siapkan Strategi ‘Belanja Habis-habisan’ di 2026
Dalam narasinya, Presiden Lai Ching-te menekankan bahwa aneksasi Taiwan oleh China akan memberikan dampak domino yang meluas hingga ke Amerika Serikat dan Eropa. Sebagai langkah antisipasi, Taipei kini gencar memperkuat hubungan ekonomi dan keamanan dengan Eropa, yang merupakan pasar ekspor terbesar ketiganya.
Salah satu senjata utama Taiwan adalah keunggulan di bidang teknologi semikonduktor. Lai menyatakan kesiapannya untuk mendukung perusahaan chip Taiwan berinvestasi di luar negeri, termasuk di Eropa, guna memperkuat kerja sama pertahanan dan kecerdasan buatan (AI).
Selama ini, dominasi produksi chip global di Taiwan dipandang sebagai “perisai silikon”—faktor utama yang mencegah serangan China sekaligus alasan kuat bagi AS untuk tetap berkomitmen membela pulau tersebut.
Meski Taiwan telah menggelontorkan miliaran dolar untuk memodernisasi militernya, Washington dilaporkan terus menekan Taipei untuk meningkatkan anggaran pertahanan secara signifikan.
Di sisi lain, muncul pertanyaan di kalangan pengamat mengenai sejauh mana kesediaan AS untuk terlibat langsung jika konflik bersenjata pecah, mengingat Beijing terus mempertegas ancamannya untuk menggunakan kekuatan demi mewujudkan reunifikasi.
Langkah Lai yang merangkul Eropa dan memperkuat rantai pasok chip global menjadi sinyal bahwa Taiwan tengah mencoba membangun benteng pertahanan internasional yang lebih luas di tengah kepungan tekanan dari Negeri Tirai Bambu.***













