BERANDAKU.COM – Kisah legendaris Galih dan Ratna kembali menyapa publik Jakarta dengan wajah baru. Pertunjukan musikal bertajuk “Bukan Cinta Galih/Ratna” hasil kolaborasi Sthana Pentas 6 dan Kinarya GSP sukses digelar di Taman Ismail Marzuki (TIM), membawa penonton melintasi waktu antara romansa klasik era 80-an dan dinamika masa kini.
Pementasan dibuka dengan adegan Ratna dewasa, yang diperankan secara apik oleh aktris legendaris Yessy Gusman, bersama dua sahabatnya Maudy Koesnaedi dan Metta Ariesta. Ketiganya membawa suasana nostalgia saat mengenang masa-masa SMA, hiruk-pikuk sekolah, hingga budaya disko yang populer pada masanya.
Baca Juga : Bupati Garut Pastikan Stok Bapokting Aman Menjelang Ramadan
Daya tarik utama musikal ini terletak pada perpaduan energi antara aktor senior dan talenta muda. Salsha Indradjaja (Ratna remaja) dan Xavier El Masrur (Galih remaja) berhasil membangun chemistry yang kuat hingga membuat penonton terbawa perasaan (baper), terutama saat melantunkan tembang abadi “Gita Cinta” dan “Puspa Indah”.
Lagu-lagu maha karya Guruh Sukarno Putra seperti “Lenggang Puspita”, “Anak Jalanan”, hingga “Keranjingan Disko” dibawakan dengan aransemen yang segar. Salah satu momen paling mencuri perhatian adalah aksi energik Elmo Slamet Hilyawan bersama jajaran pemeran guru saat membawakan lagu “Menyanyi, Menari, Belajar, Bekerja, Berjuang”.
Meski berpijak pada cerita lama, sutradara muda Mikail Edwin Rizki (18) memberikan sentuhan inovatif pada akhir cerita. Lagu “Galih dan Ratna” diadaptasi dengan gaya berbeda, memadukan romansa dengan komedi segar dan plot twist yang tidak biasa (anti-mainstream).
“Saya lega dan bangga karena pementasan ini berjalan sesuai harapan. Semoga industri teater musikal kita semakin berani tampil inovatif,” ujar Mikail dalam keterangan persnya.
Yessy Gusman pun memuji perbedaan gaya akting antara generasinya dengan Gen Z. Menurutnya, aktor muda saat ini membawa pendekatan yang lebih natural dan dekat dengan keseharian, yang justru memperkaya dinamika panggung.
Baca Juga : Investasi Deras di Gunungkidul, GKR Mangkubumi: Kita Ini Jogja, Bukan Bali!
Produser Yessi Haryanda menjelaskan bahwa ide awal pementasan ini adalah untuk memperkenalkan kembali kekayaan lagu-lagu era 80-an kepada generasi masa kini.
“Lagu-lagu populer era 80-an ingin kami perkenalkan kembali melalui format yang lebih dekat dengan selera masa kini. Karena itu kami memadukan dua generasi dalam satu panggung,” tukas Yessi.***







