banner 728x250

Satelit Deteksi Gelombang Raksasa 20 Meter di Pasifik, Ancaman Baru bagi Pesisir?

Satelit deteksi gelombang raksasa 20 meter di Samudra Pasifik!

Satelit deteksi gelombang raksasa 20 meter di Samudra Pasifik!
Satelit deteksi gelombang raksasa 20 meter di Samudra Pasifik!
banner 468x60

BERANDAKU.COM Teknologi antariksa terbaru berhasil menangkap fenomena alam yang mencengangkan di Samudra Pasifik. Sebuah studi terbaru mengungkap keberadaan gelombang raksasa setinggi 20 meter, setara dengan gedung bertingkat lima, yang memecahkan rekor sebagai gelombang tertinggi yang pernah terukur melalui citra satelit.

Temuan yang dirilis dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS) ini bukan sekadar angka. Para peneliti memperingatkan bahwa gelombang ini berfungsi sebagai “pembawa pesan” mematikan yang mampu mengirimkan energi destruktif hingga ribuan kilometer, melampaui pusat badai asalnya.

Example 300x600

Baca Juga : HUT Garut ke-213, Bupati Napak Tilas Sejarah Ke Makam Leluhur

Tim peneliti yang dipimpin oleh Fabrice Ardhuin dari Laboratorium Oseanografi Fisik dan Ruang Prancis, memanfaatkan kecanggihan satelit SWOT milik Prancis-AS untuk melacak pergerakan energi ini. Objek penelitian utama mereka adalah Badai Eddie, yang mencapai puncaknya pada 21 Desember 2024.

Badai ini tercatat sebagai yang terbesar dalam satu dekade terakhir. Namun, fakta yang lebih mengejutkan adalah daya jangkaunya. Gelombang raksasa ini terlacak bergerak sejauh 24.000 kilometer, melintasi Pasifik Utara, melewati Selat Drake di ujung Amerika Selatan, hingga mencapai Atlantik Tropis dalam waktu dua minggu.

“Ini membuktikan bahwa meski badai tidak menyentuh daratan, gelombangnya tetap bisa menghantam pantai yang letaknya sangat jauh dari pusat badai,” tulis laporan tersebut.

Keberhasilan deteksi ini merupakan buah dari penggabungan data berbagai satelit canggih, termasuk Copernicus Sentinel-3A, Sentinel-6 Michael Freilich, hingga CFOSAT. Data ini dikombinasikan dengan catatan proyek ESA Climate Change Initiative yang telah merekam kondisi gelombang sejak tahun 1991.

Riset ini memberikan validasi pertama untuk model gelombang numerik dalam kondisi ekstrem. Menariknya, ilmuwan menemukan bahwa selama ini kandungan energi pada gelombang panjang sistematis diperkirakan terlalu tinggi. Kenyataannya, energi lebih terkonsentrasi pada gelombang badai dominan, bukan tersebar secara merata.

Apakah Terkait Perubahan Iklim?

Temuan ini memicu pertanyaan besar: apakah badai ekstrem seperti ini akan menjadi normal baru akibat perubahan iklim? Sebagai perbandingan, pemodelan menunjukkan gelombang tertinggi dalam 34 tahun terakhir terjadi pada 2014, saat Badai Hercules menghasilkan gelombang 23 meter yang menghancurkan pesisir Maroko hingga Irlandia.

“Langkah selanjutnya adalah menghubungkan temuan ini dengan perubahan iklim melalui model simulasi,” ujar Fabrice Ardhuin, mengutip dari laman resmi European Space Agency (ESA).

Meski demikian, Ardhuin mengakui adanya tantangan dalam membuktikan tren ini. “Kondisi dasar laut di pesisir juga memengaruhi gelombang, dan badai sebesar ini sangat jarang terjadi, sehingga sulit untuk membuktikan tren secara langsung,” pungkasnya.

Penelitian ini menjadi peringatan bagi komunitas pesisir dan infrastruktur maritim dunia untuk lebih waspada terhadap energi “tak terlihat” yang dikirimkan oleh badai di tengah samudra yang jauh.

Informasi Cuaca Lengkap. Klik disini!

banner 325x300
banner 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *