banner 728x250

Mahasiswa dan Masyarakat Tasikmalaya Suarakan Isu Pelanggaran HAM

ORASI TERBUKA. Mahasiswa dan masyarakat Tasikmalaya saat menyampaikan orasi terbuka isu pelanggaran HAM di Alun-alun Kota Tasikmalaya, Kamis (5/3/2026).

banner 468x60

TASIK,BERANDAKU.COM – Elemen masyarakat dan mahasiswa berkumpul memadati Alun-Alun Kota Tasikmalaya, Kamis (5/3/2026) sore.

Kehadiran mereka menandai konsistensi gerakan sipil dalam menyuarakan isu pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) serta menolak impunitas di wilayah tersebut.

Example 300x600

Dimulai sekitar pukul 16.00 WIB, aksi ini diisi dengan refleksi bersama dan orasi terbuka menyuarakan isu pelanggaran HAM.

Peserta aksi yang mayoritas mengenakan atribut hitam tampak khidmat mendengarkan narasi ketidakadilan yang disampaikan secara bergantian di mimbar bebas.

Rifqi, salah satu peserta aksi, menjelaskan bahwa inisiasi ini merupakan pokok pembicaraan dari pertemuan sebelumnya agar menjadi agenda yang berkelanjutan, bukan sekadar respons sesaat terhadap satu peristiwa.

Menurutnya orang-orang yang mengikuti akan selalu diajak untuk terus berkumpul dan berjejaring agar gerakan ini bisa terus berjalan.

“Kedepannya, selain mimbar bebas, akan ada juga kuliah jalanan dalam bentuk diskusi, serta penampilan kesenian seperti musik dan stand up comedy,” ujar Rifqi.

Mengenai isu yang diangkat, massa menyoroti tindakan institusi pemerintahan yang dinilai menimbulkan banyak korban, mulai dari masalah tahanan politik pada Agustus 2025, insiden penembakan, hingga sikap politik global Indonesia.

“Kami tidak membatasi orang untuk berekspresi, baik isu nasional maupun lokal yang dekat dengan masyarakat, namun fokus utamanya tetap pada impunitas dan pelanggaran HAM,” tegasnya.

Kondisi HAM di lingkup lokal juga menjadi sorotan tajam. Ferry, mahasiswa Teknik Sipil Universitas Cipasung yang baru pertama kali mengikuti aksi ini, turut memberikan orasinya mengenai fenomena child grooming di Tasikmalaya serta ketimpangan sosial yang menyayat hati.

“Tadi saya menyoroti soal anak sekolah dasar yang sampai bunuh diri karena tidak mampu membeli alat tulis. Negara tidak bisa benar-benar merdeka kalau pemerintah masih belum bisa menegakkan keadilan,” tutur Ferry dalam orasinya.

Aksi ini ditutup dengan harapan besar agar gerakan di Tasikmalaya tetap konsisten di tengah banyaknya orang yang belum mendapatkan hak-haknya secara adil. Ferry menekankan bahwa isu HAM adalah hal fundamental yang tidak boleh diabaikan.

“Harapannya aksi ini terus konsisten sebagai pengingat bagi kita semua atas segala bentuk pelanggaran yang dilakukan oleh negara. Masih banyak orang di luar sana yang belum mendapat keadilan, dan ini adalah suara untuk mereka,” pungkasnya.***

 

banner 325x300
banner 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *