banner 728x250

Waspada ‘Tox1c’ di Game Online: Orang Tua Wajib Tahu Cara Lindungi Anak dari Interaksi Negatif

Panduan orang tua hadapi interaksi negatif anak di game online. Mulai dari cara blokir pemain toxic hingga pentingnya komunikasi terbuka demi keamanan digital anak

Waspada 'Tox1c' di Game Online: Orang Tua Wajib Tahu Cara Lindungi Anak dari Interaksi Negatif
Waspada 'Tox1c' di Game Online: Orang Tua Wajib Tahu Cara Lindungi Anak dari Interaksi Negatif
banner 468x60

BERANDAKU.COM – Kehadiran Game daring (game online) kini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian anak-anak. Namun, di balik keseruannya, terdapat risiko interaksi negatif atau perilaku toxic dari pemain lain yang bisa berdampak pada psikologis si kecil.

Menanggapi fenomena ini, Diskominfo Jabar membagikan langkah-langkah krusial bagi orang tua untuk mendampingi anak saat berselancar di dunia maya.

Example 300x600

Kunci utama dalam menghadapi situasi ini adalah mengajarkan anak untuk tetap tenang. Orang tua perlu membimbing anak agar tidak bereaksi impulsif atau terpancing amarah saat menemukan pemain yang berperilaku buruk.

Menghindari adu argumen di dalam gim sangat penting agar keadaan tidak semakin memburuk dan mental anak tetap terjaga.

Langkah bijak selanjutnya adalah memberikan ruang bagi anak untuk mengambil jeda. Ketika situasi mulai tidak nyaman, mintalah anak untuk berhenti sejenak dari permainan dan menenangkan diri.

Dalam momen ini, orang tua bisa mengarahkan anak untuk menggunakan fitur keamanan yang tersedia di dalam platform gim, seperti fitur mute (senyap), block (blokir), atau report (laporkan) terhadap pemain yang berkata kasar atau mengganggu.

Selain tindakan teknis tersebut, mendokumentasikan bukti interaksi negatif juga sangat disarankan. Orang tua bisa mengajarkan anak cara melakukan tangkapan layar (screenshot) pada pesan-pesan kasar sebagai bukti otentik jika nantinya diperlukan untuk pelaporan resmi kepada pengembang gim atau pihak berwenang.

Jika situasi di dalam gim terasa sudah terlalu berat dan melampaui batas toleransi anak, langkah terbaik adalah membiarkan anak keluar dari permainan sepenuhnya.

Hal yang paling krusial dalam proses ini adalah menciptakan ruang aman bagi anak untuk bercerita kepada orang dewasa yang ia percayai mengenai pengalaman buruk yang dialaminya.

Pada akhirnya, benteng perlindungan terkuat bagi anak di dunia maya bukanlah sekadar fitur teknologi, melainkan komunikasi yang terjalin erat antara orang tua dan anak.

Menjalin dialog terbuka tentang aktivitas digital mereka akan membantu anak merasa terlindungi dan lebih bijak dalam menghadapi berbagai tantangan di internet.***

banner 325x300
banner 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *