banner 728x250
Kita  

Empat Dekade Mengabdi, Akhmad Juhana Kini Nahkodai PGRI Jawa Barat

Mengenal sosok H. Akhmad Juhana, pria asal Tasikmalaya yang kini menjabat Ketua PGRI Jawa Barat.

Empat Dekade Mengabdi, Akhmad Juhana Kini Nahkodai PGRI Jawa Barat
Empat Dekade Mengabdi, Akhmad Juhana Kini Nahkodai PGRI Jawa Barat
banner 468x60

BERANDAKU.COM – Jalan panjang pengabdian H. Akhmad Juhana, S.Pd., M.M.Pd. di dunia pendidikan dan organisasi guru berlabuh pada satu titik yang tak pernah ia rencanakan adalah menjadi Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Provinsi Jawa Barat periode 2024–2029.

Pria kelahiran Tasikmalaya, 6 Oktober 1958 yang disapa Abah itu terpilih dalam Konferensi Provinsi (Konprop) PGRI Jawa Barat pada 13 Desember 2024 melalui mekanisme voting, dengan perolehan 1.381 suara dari total 1.682 hak pilih.

Example 300x600

“Kalau ditanya soal pemilihan ketua PGRI Jabar, Abah mah ketawa. Dari awal Abah rerus terang enggak mau memimpin PGRI Jawa Barat. Sebab tahu kondisi Jawa Barat seperti apa,” ujarnya saat ditemui dikediamannya beberapa waktu lalu.

Abah menjelaskan, saat proses penjaringan calon ketua berlangsung, ia justru berada di barisan pendukung kandidat lain bersama sejumlah pengurus sepakat mengusung petahana saat itu mau menghantarkan Pak Gusdinar jadi Ketua.

Baca Juga : Kasus Kekerasan Seksual Pelatnas Panjat Tebing, Komisi X DPR Desak Penanganan Transparan

Kebetulan waktu itu, beliau posisinya PAW yang menggantikan almarhum Pak Dede Amar di PGRI Jawa Barat.

Dan itu diperkuat oleh Pak Asep Dendi yang menjabat Ketua PGRI Kabupaten Bandung Barat sekaligus juga menjabat Kepala Dinas Pendidikan Bandung Barat.

Kemudian, Pak Purwanto yang sekarang menjadi Kadisdik Jabar yang waktu itu menjadi Ketua PGRI Purwakarta dan Ketua PGRI Purwakarta.

Pada saat mereka sedang ada di Batam, semua turun ke Bandung pada pelaksanaan Konferensi Provinsi.

Mereka malah mendukung Abah untuk maju menjadi ketua PGRI Provinsi Jawa Barat.

Tadinya Abah mengharapkan kalau tidak Pak Gusdinar, Pak Purwanto atau Pak Asep Dendi. Malah justru mereka berdua yang berbalik mendukung.

Padahal abah mengaku telah mengarahkan 27 kabupaten/kota agar mendukung calon tersebut hingga aklamasi. Namun, sekitar 10 hari menjelang pelaksanaan konferensi, situasi berubah.

Ada pembelokan dari teman-teman sendiri. Mereka bergerak tanpa sepengetahuan pribadinya untuk mengusung menjadi Ketua, yang dari awal memang tidak diinginkan.

Keputusan akhirnya justru datang dari keluarga. Pertama ada di Ambu (istri). Entah istikharah apa bagaimana, anehnya mengizinkan.

“Katanya, jangan tanggung. Kalau mau masuk provinsi, masuk saja di F1,” ucap Abah menceritakan.

Dukungan juga menguat dari sejumlah tokoh pendidikan di Jawa Barat. Hasilnya, Abah menang telak dalam voting. Sesuatu yang tidak direncanakan dari awal.

Dalam memimpin organisasi profesi guru terbesar di Jawa Barat, Abah menegaskan tiga fokus utama kepemimpinannya hingga 2029.

Pertama, memperjuangkan kesetaraan status guru, terutama guru honorer. Kedua, menjaga harkat dan martabat guru.

Baca Juga : Dukung Pesantren Ekologi 2026, Perhutani KPH Tasikmalaya Tanam 50 Bibit Pohon di SMK Negeri Pancatengah

Ia menilai guru harus ditempatkan pada posisi terhormat sebagai pilar pendidikan bangsa. Ketiga, memperkuat komunikasi organisasi dengan pemerintah daerah.

Kepengurusan PGRI di provinsi maupun kabupaten/kota harus berkomunikasi baik dengan pemerintah daerah. Sebab, anggota PGRI itu di bawah binaan teknis dan kepegawaian bupati dan wali kota.

Ia juga menekankan pentingnya independensi organisasi. Memiliki prinsip tersendiri kapan harus melakukan peningkatan perjuangan.

“Terpenting titip kesejahteraan guru, terutama kenyamanan mereka dalam mengajar,” bebernya.

Empat Dekade Mengabdi

Karier Abah di dunia pendidikan dimulai sebagai guru SD pada tahun 1978-1981 di wilayah terpencil Cipatujah. Tepatnya di SDN Sirnagalih.

Empat tahun kemudian ia pindah ke Cibeureum. Lalu tahun 1994 diangkat menjadi kepala sekolah.

Selanjutnya Pada 2002, ia dipercaya menjabat Kepala Cabang Dinas (Kacabdik) di Manonjaya, lalu Singaparna.

Karier birokrasi terus berlanjut sebagai Kepala Seksi SD, Kepala Bidang Pemuda dan Olahraga, hingga Sekretaris Dinas Pendidikan.

Ia juga pernah bertugas di sejumlah dinas lain, termasuk saat merintis pelayanan e-KTP di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil sebagai Kepala Subbagian Perencanaan.

“Masuk kantor perizinan, pensiun dari perizinan. Jadi gelar S.Pd itu di mana-mana cocok,” ujarnya berseloroh.

Di organisasi PGRI, Abah mulai aktif sejak 1983 sebagai Wakil Sekretaris Cabang.

Ia kemudian menjadi Ketua Cabang Cibeureum dua periode, Ketua PGRI Kota Persiapan, hingga dipercaya memimpin PGRI Kabupaten Tasikmalaya selama dua periode (2015–2025).

“PGRI itu Abah mulai 1983. Jadi kalau dihitung, sudah lebih dari 40 tahun berorganisasi,” katanya.

Kini, di usia 67 tahun, ayah empat anak itu memaknai jabatan sebagai amanah.

“Jabatan itu amanah, satu kepercayaan yang dibebankan kepada kita. Harus komitmen, konsekuen dalam menjalankannya,” pungkasnya.***

banner 325x300
banner 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *