banner 728x250

LSMI Tasikmalaya Tampilkan Seni Budaya di Panggung Dies Natalis ke-79 HMI

banner 468x60

TASIK-BERANDAKU.COM – Lembaga Seni Mahasiswa Islam (LSMI) Tasikmalaya menunjukkan eksistensinya melalui pagelaran malam puncak Dies Natalis ke-79 Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Minggu (1/3/2026).

Kegiatan dies natalis ini diselenggarakan oleh PB HMI di SMESCO Convention Hall, Jakarta Selatan. Agenda ini bukan sekadar seremoni, melainkan ruang konsolidasi ideologis dan pertemuan lintas generasi kader dalam merumuskan arah perjuangan ke depan.

Example 300x600

Kehadiran sejumlah tokoh nasional seperti Muhammad Syafi’i, Koordinator MN KAHMI, Ahmad Muzani, serta Bahlil Lahadalia menjadi penanda bahwa dialektika kader HMI terus bergerak.

Pergerakan dari ruang-ruang intelektual hingga ruang-ruang strategis kebangsaan. HMI tetap hidup, tumbuh dan berkontribusi untuk negeri dan bangsa ini.

Pada momentum tersebut, LSMI Tasikmalaya mempersembahkan dua karya, monolog reflektif dan musikalisasi puisi kontemporer. Penampilan ini bukan sekadar suguhan artistik, melainkan pernyataan sikap kultural.

Ditengah dinamika sosial-politik yang kerap bising, kader LSMI Tasikmalaya hadir melalui seni sebagai medium kesadaran menghadirkan kritik, harapan, sekaligus peneguhan nilai.

Direktur Eksekutif LSMI Tasikmalaya Cepi Sultoni mengungkapkan rasa syukur dan kebanggaannya atas capaian tersebut.

Ia menyampaikan bahwa pada momentum sebelumnya di agenda PB HMI, dirinya pernah tampil membawakan karya berjudul “1947”. Namun kali ini, kebahagiaan yang dirasakan berbeda.

“Dulu saya tampil sendiri menyanyikan karya saya. Tapi kemarin, saya merasa jauh lebih senang, bahagia, dan bangga. Bahkan mata saya berkaca-kaca, karena bisa membawa rekan-rekan LSMI Tasikmalaya tampil bersama di malam puncak ini,” ungkap Cepi.

Menurutnya bagi LSMI, panggung nasional ini adalah komitmen ideologis, terus berproses dalam berkarya, berkesenian dan ber-HMI.

“Kami ingin membuktikan bahwa kader HMI tidak semata identik dengan demonstrasi dan agitasi jalanan, tetapi juga dengan produksi gagasan dan kebudayaan,” terang dia.

Perjuangan tidak hanya diwujudkan dalam orasi, tetapi juga dalam karya. Sebab merawat seni dan budaya adalah bagian dari ikhtiar membangun peradaban.

Pasca momentum nasional ini, LSMI Tasikmalaya menegaskan komitmennya untuk terus membuat gebrakan baru dan segar dalam gerak kesenian dan kebudayaan.

LSMI akan konsisten menjadi ruang lahirnya insan akademis, insan pencipta, insan pengabdi yang bernafaskan Islam, serta bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhai Allah SWT.***

 

banner 325x300
banner 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *