banner 728x250

Selat Hormuz Terhambat Konflik, Mendag RI: Diversifikasi Pasar Ekspor ke Afrika Jadi Solusi

Selat Hormuz Terganggu, Pemerintah Siapkan Diversifikasi Pasar ke Afrika dan Asia Tenggara Guna Jaga Surplus Neraca Perdagangan Indonesia

banner 468x60

JAKARTA, BERANDAKU.COM — Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso memproyeksikan kinerja ekspor Indonesia berpotensi mengalami perlambatan jika eskalasi konflik antara Iran, Amerika Serikat (AS), dan Israel terus berlanjut.

Ketegangan di kawasan Timur Tengah ini mulai berdampak signifikan pada jalur logistik global, terutama di Selat Hormuz.

Example 300x600

Menurut Mendag, gangguan pada rute pelayaran tersebut memicu lonjakan biaya logistik akibat kenaikan harga minyak dunia serta pengalihan rute kapal yang menjadi lebih panjang.

“Jika konflik ini tidak segera selesai, dampaknya tentu pada ekspor kita. Pertumbuhannya bisa lebih rendah daripada tahun lalu karena biaya transportasi yang membengkak,” ujar Mendag.

Berdasarkan data Kemendag, nilai ekspor Indonesia ke Timur Tengah sepanjang tahun 2025 mencapai USD 9,87 miliar, dengan tujuan utama Uni Emirat Arab (UEA) dan Arab Saudi.

Baca Juga : Tok! KPPU Denda 97 Perusahaan Pinjol Rp755 Miliar Terkait Kartel Bunga, OJK Minta Industri Benahi Tata Kelola

Meski permintaan dari kawasan tersebut masih stabil, hambatan utama kini terletak pada aspek pengangkutan.

Beberapa pelabuhan (port) strategis dilaporkan tutup, memaksa eksportir mencari rute alternatif yang lebih jauh.

“Eksportir sebenarnya masih sanggup mengirim barang, hanya saja cost-nya menjadi jauh lebih tinggi untuk biaya transportasi,” tambah Budi.

Kendati dibayangi krisis logistik, Mendag tetap optimis neraca perdagangan RI secara keseluruhan akan tetap surplus tahun ini.

Keyakinan tersebut didasari oleh tren kenaikan harga komoditas andalan Indonesia, seperti minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) dan batu bara.

Sebagai perbandingan, pada tahun lalu harga CPO sempat turun 16% dan batu bara turun 19%.

Namun, tahun ini kedua komoditas tersebut mulai merangkak naik. “Kenaikan harga ini diharapkan bisa mengompensasi pembengkakan biaya logistik yang terjadi,” jelasnya.

Sebagai langkah strategis jangka panjang, Kemendag kini gencar membidik negara-negara di luar pasar tradisional yang tidak terdampak langsung oleh penutupan Selat Hormuz.

Program business matching kini diarahkan ke kawasan Asia Tenggara dan Afrika yang pasarnya masih terbuka lebar.

Budi Santoso juga mendorong para pelaku UMKM untuk lebih fleksibel dalam mencari tujuan ekspor baru.

Menurutnya, UMKM memiliki keunggulan dalam kecepatan adaptasi untuk pasar jangka pendek.

“UMKM ekspornya bisa lebih fleksibel. Kita akan carikan pasar-pasar baru yang tidak terdampak perang sebagai alternatif agar kinerja ekspor nasional tetap terjaga,” pungkasnya.***

banner 325x300
banner 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *