News  

Telur Cage-Free Mulai Dilirik, Industri Perunggasan Siapkan Peluang Baru

Forum Protein Up di Yogyakarta mempertemukan pelaku industri, peternak, akademisi, dan pemangku kepentingan untuk membahas peluang serta tantangan produksi telur cage-free.

Telur Cage-Free Mulai Dilirik, Industri Perunggasan Siapkan Peluang Baru
Telur Cage-Free Mulai Dilirik, Industri Perunggasan Siapkan Peluang Baru. (foto:istimewa)
banner 468x60

YOGYAKARTA, BERANDAKU.COM — Sistem produksi cage-free mulai mendapat perhatian lebih luas dari pelaku usaha perunggasan nasional. Selain merespons tuntutan pasar dan perubahan preferensi konsumen, sistem ini membuka peluang bagi pelaku usaha untuk menciptakan nilai tambah dan mengembangkan model bisnis berkelanjutan.

Hal tersebut mengemuka dalam kegiatan Protein Up: Exploring New Opportunities in the Poultry Industry yang mempertemukan lebih dari 150 pelaku industri, peternak, akademisi, dan pemangku kepentingan perunggasan di Yogyakarta, Rabu (30/9/2026).

Layer Farm Manager WMU, Ir. Arif Afiata Rahmat, S.Pt., IPP, mengatakan pelaku usaha tidak semestinya memandang cage-free hanya sebagai perubahan sistem pemeliharaan. Menurutnya, sistem tersebut juga dapat menjadi bagian dari pengembangan bisnis.

“Cage-free perlu dilihat sebagai model bisnis berkelanjutan yang mampu mempertahankan produktivitas sekaligus menghasilkan telur berkualitas sesuai dengan permintaan konsumen,” ujarnya.

Saat ini, WMU meningkatkan populasi ayam petelur cage-free dari sekitar 200.000 ekor menjadi 500.000 ekor pada 2027. Dengan ekspansi tersebut, WMU diproyeksikan menjadi salah satu produsen cage-free terbesar di Asia Tenggara.

Lever Foundation bersama PINSAR Indonesia, Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada (FKH UGM), dan ASOHI Jogja menyelenggarakan kegiatan Protein Up. Forum tersebut berlangsung di FKH UGM sebagai bagian dari rangkaian Hari Ayam dan Telur Nasional (HATN).

Sejumlah produsen telur turut hadir, antara lain Jatinom, Januputro, Megatech, dan Lourba Jaya. Kehadiran para produsen tersebut menunjukkan pembahasan mengenai cage-free mulai mendapat ruang lebih besar di tingkat peternak.

Namun, penerapan cage-free tidak sekadar mengganti sistem kandang. Perubahan tersebut juga membutuhkan kesiapan teknologi, manajemen pemeliharaan, biosekuriti, hingga strategi nutrisi.

drh. Kokot Februhadi, Sales Specialist Kaleter, memaparkan sejumlah pilihan teknologi perkandangan untuk sistem cage-free. Pilihan tersebut mencakup floor system, aviary, hingga mobile house.

“Seiring dengan semakin berkembangnya sistem produksi ayam petelur cage-free dan semakin banyaknya pilihan peralatan yang tersedia, proses transisi menjadi lebih mudah dan semakin menarik bagi perusahaan yang ingin masuk ke pasar cage-free,” jelasnya.

Perubahan sistem pemeliharaan juga memengaruhi kebutuhan nutrisi ayam. drh. Henri E. Prasetyo, M.Vet., Nutritionist & Business Development Manager DMC, mengatakan strategi pakan pada sistem cage-free perlu menyesuaikan karakteristik ayam yang berbeda dari sistem kandang konvensional.

“Strategi nutrisi perlu mempertimbangkan tingkat aktivitas ayam yang lebih tinggi, kesehatan kaki dan kerabang telur, serta peluang menghasilkan telur dengan kualitas dan nilai fungsional yang lebih baik melalui pendekatan precision nutrition,” ungkap Henri.

WMU juga melakukan penelitian terhadap telur dari sistem cage-free dan kandang baterai. Hasil pengujian menunjukkan sejumlah perbedaan pada komposisi nutrien kedua jenis telur tersebut.

Beberapa parameter ditemukan lebih tinggi pada telur cage-free, antara lain karoten, Omega-3, Omega-9, DHA, dan protein. Sementara itu, sejumlah parameter lain ditemukan lebih tinggi pada telur dari sistem kandang baterai.

Dari sisi kesehatan dan manajemen, penerapan cage-free juga membutuhkan perhatian terhadap sejumlah faktor. Prof. Dr. drh. Michael Haryadi Wibowo, Guru Besar FKH UGM, menyoroti pentingnya penguatan manajemen kesehatan seiring dengan meningkatnya ruang gerak ayam.

“Penerapan sistem tersebut perlu didukung dengan biosekuriti yang lebih kuat, pengelolaan litter dan kotoran yang efektif, ventilasi yang baik, pengelolaan kualitas air, serta pemantauan kesehatan flok secara berkala. Dengan demikian, kebebasan bergerak dan kesempatan ayam mengekspresikan perilaku alaminya perlu berjalan beriringan dengan manajemen pemeliharaan yang baik,” tambahnya.

Ricky Bangsaratoe, Ketua Bidang Promosi, Pameran, dan Kampanye Gizi PINSAR Indonesia, menilai tema Protein Up relevan dengan perkembangan industri perunggasan saat ini.

“Bagi peternak di Indonesia, tema Protein Up: Exploring New Opportunities in the Poultry Industry sangat relevan karena industri terus berkembang dan harus merespons perubahan kebutuhan konsumen serta dinamika pasar,” ujar Ricky.

Menurutnya, forum tersebut tidak hanya membahas cage-free. Para peserta juga membahas pencegahan penyakit, manajemen pakan, efisiensi nutrisi, serta perkembangan teknologi perkandangan.

“Berbagai topik yang dibahas dalam kegiatan ini merupakan elemen penting dalam membangun industri perunggasan Indonesia yang semakin maju, sehat, efisien, berkelanjutan, dan kompetitif,” tambahnya.

Sementara itu, Sandi Dwiyanto, Lead of Supply Chain Engagement Lever Foundation, mengatakan permintaan telur cage-free juga mendapat dorongan dari komitmen pengadaan perusahaan di sektor hotel, restoran, dan katering (HORECA).

“Permintaan terhadap telur cage-free terus meningkat, salah satunya didorong oleh kebijakan pengadaan dari perusahaan-perusahaan di sektor HORECA, seperti Swiss-Belhotel International, SuperIndo, Marriott, Hilton, Sodexo, Burger King, dan Circle K,” jelas Sandi.

Perusahaan-perusahaan tersebut menjadi bagian dari lebih dari 3.000 perusahaan secara global yang telah menyatakan komitmen menggunakan 100 persen telur cage-free.

Dari sisi konsumen, survei GMO Research pada 2025 menunjukkan 81 persen konsumen Indonesia menilai ayam petelur seharusnya dipelihara dalam sistem cage-free. Sebanyak 55 persen responden juga menyatakan lebih tertarik berbelanja di jaringan restoran dan supermarket yang hanya menggunakan telur cage-free.

Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa penerapan sistem cage-free tidak lagi hanya berkaitan dengan perubahan sistem perkandangan di tingkat peternakan. Lebih jauh, sistem tersebut berkaitan dengan kebutuhan pasar, kebijakan pengadaan perusahaan, inovasi teknologi, strategi nutrisi, serta meningkatnya perhatian konsumen terhadap proses produksi pangan.***

banner 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *