BERANDAKU.COM – PT Widodo Makmur Unggas Tbk (WMU) terus memperkuat posisinya di industri telur cage-free nasional. Melalui rencana ekspansi kapasitas produksi yang sedang berjalan, perusahaan ini membidik peluang menjadi salah satu produsen telur cage-free terbesar di Asia Tenggara.
Langkah tersebut sejalan dengan meningkatnya permintaan telur cage-free yang menunjukkan tren pertumbuhan konsisten dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi ini mendorong sejumlah produsen telur mulai melakukan transformasi maupun memperluas kapasitas produksi untuk memenuhi kebutuhan pasar.
Direktur Marketing WMU, Tri Mahawijaya Herlambang, mengatakan pasar telur cage-free di Indonesia terus berkembang seiring meningkatnya kesadaran konsumen terhadap aspek keberlanjutan, keamanan pangan, dan kesejahteraan hewan.
Menurutnya, pertumbuhan pasar tidak hanya didorong oleh perusahaan makanan multinasional, tetapi juga semakin banyak pelaku usaha dan perusahaan lokal yang mulai beralih menggunakan telur cage-free.
“Untuk memenuhi kebutuhan pasar yang terus berkembang, WMU tengah memperluas kapasitas peternakan telur cage-free secara bertahap,” ujar Mahawijaya.
Saat ini, WMU mengelola sekitar 200.000 ekor ayam petelur cage-free. Jumlah tersebut ditargetkan meningkat menjadi 500.000 ekor pada 2027.
“Kami optimistis permintaan telur cage-free akan terus meningkat. Karena itu, kami menyiapkan kapasitas produksi sejak sekarang agar siap mengantisipasi lonjakan permintaan yang dapat terjadi sewaktu-waktu,” katanya.
Saat ini, telur cage-free produksi WMU dipasarkan melalui skema business-to-business (B2B) kepada berbagai segmen pelanggan, mulai dari perusahaan katering, jaringan hotel, restoran, hingga gerai makanan cepat saji.
Selain memperkuat pasar B2B, WMU juga tengah menyiapkan peluncuran merek telur cage-free sendiri untuk menyasar segmen ritel.
“Pengembangan ini bukan untuk menggantikan pasar yang sudah ada, melainkan membuka segmen baru dengan nilai tambah lebih tinggi sekaligus menjawab kebutuhan konsumen yang semakin peduli terhadap keberlanjutan, keamanan pangan, dan kesejahteraan hewan,” tegas Mahawijaya.
Sebagai perusahaan terbuka, WMU juga menempatkan aspek keberlanjutan sebagai bagian penting dalam strategi bisnisnya. Penerapan prinsip animal welfare melalui sistem peternakan cage-free menjadi salah satu bentuk nyata komitmen tersebut.
Menanggapi rencana ekspansi WMU, Sustainable Poultry Program Manager Lever Foundation, Sandi Dwiyanto, menyampaikan apresiasinya. Menurutnya, meningkatnya komitmen konsumen maupun pelaku usaha terhadap keberlanjutan membuka peluang besar bagi pertumbuhan pasar telur cage-free di Indonesia.
“Dalam beberapa tahun terakhir, permintaan telur cage-free terus meningkat, terutama dari sektor ritel, hotel, restoran, perusahaan FMCG, serta layanan makanan,” ujar Sandi.
Saat ini, lebih dari 2.000 perusahaan makanan global telah berkomitmen menggunakan 100 persen telur cage-free. Sejumlah merek internasional yang beroperasi di Indonesia seperti KFC, Burger King, Hyatt, Marriott, dan Swiss-Belhotel International termasuk di dalamnya.
Di tingkat nasional, sejumlah perusahaan juga mulai menerapkan atau bertransisi menuju kebijakan pengadaan telur cage-free, di antaranya Super Indo, Ismaya Group, Bali Buda, dan Jiwa Jawi.
Pertumbuhan pasar tersebut turut diperkuat hasil survei GMO Research yang menunjukkan 55 persen konsumen Indonesia lebih memilih produk dari merek yang menggunakan telur cage-free. Sementara itu, 72 persen responden menilai perusahaan makanan seharusnya menggunakan telur yang berasal dari peternakan dengan standar kesejahteraan hewan.
Dari sisi keamanan pangan, studi lintas negara yang dilakukan European Food Safety Authority (EFSA) menunjukkan peternakan telur cage-free memiliki risiko hingga 25 kali lebih rendah mengalami kontaminasi strain tertentu bakteri Salmonella dibandingkan sistem kandang konvensional.
Menurut Sandi, ekspansi WMU juga selaras dengan diterbitkannya Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) Nomor 32 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Kesejahteraan Hewan.
“Kami berharap langkah WMU dapat menginspirasi lebih banyak produsen telur di Indonesia untuk mempersiapkan diri menghadapi perubahan kebutuhan pasar yang terus berkembang. Kami juga akan terus mendukung penguatan ekosistem cage-free agar pertumbuhan permintaan dan ketersediaan pasokan dapat berjalan beriringan,” pungkasnya.***









