YOGYAKARTA, BERANDAKU.COM – PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk berkolaborasi dengan Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada untuk mengembangkan model farm ayam petelur sistem umbaran atau cage-free di Yogyakarta.
Kolaborasi tersebut diwujudkan melalui pembangunan kandang ayam petelur berbasis sistem umbaran yang berlokasi di UGM Innovation and Agro-Technology Center.
Sebagai bentuk dukungan awal, Japfa memberikan hibah sebanyak 1.500 pullet atau ayam dara siap bertelur, termasuk pasokan pakan selama masa produksi.
Dekan Fakultas Peternakan UGM, Budi Guntoro, mengatakan sistem cage-free memungkinkan ayam bergerak lebih bebas dan mengekspresikan perilaku alaminya.
“Ketika kesejahteraan hewan terpenuhi, tingkat stres menurun, yang berdampak positif terhadap produktivitas dan kualitas telur,” ujarnya, Selasa (21/4/2026).
Menurut Budi, model farm tersebut tidak hanya difungsikan sebagai unit produksi telur, tetapi juga menjadi pusat penelitian berbasis data untuk mendukung pengembangan peternakan ayam petelur modern di Indonesia.
Sementara itu, COO Poultry Indonesia Japfa, Arif Widjaja, menyebut fasilitas cage-free tersebut menjadi langkah penting dalam mendorong praktik peternakan yang lebih berkelanjutan dan bertanggung jawab.
“Fasilitas cage-free ini tidak hanya berfungsi sebagai unit produksi, tetapi juga sebagai platform riset untuk mengembangkan sistem peternakan yang lebih efisien dan berkelanjutan,” katanya.
Ia menambahkan, tren permintaan telur cage-free terus meningkat, terutama dari sektor hotel, restoran, kafe (Horeka), hingga perusahaan makanan global yang mulai beralih menggunakan telur dari sistem peternakan tanpa kandang baterai.
Dukungan terhadap pengembangan model farm cage-free juga datang dari Lever Foundation.
Sustainable Poultry Program Manager Lever Foundation, Sandi Dwiyanto, menilai kolaborasi antara Japfa dan Fapet UGM menjadi fondasi penting dalam transformasi industri perunggasan nasional.
“Pengembangan model farm cage-free dalam lingkungan akademik seperti UGM memberikan fondasi penting untuk menghasilkan data ilmiah yang relevan dengan konteks Indonesia,” ujarnya.
Ia menjelaskan, kebutuhan pasar global terhadap produk telur cage-free terus meningkat, terutama dari sektor ritel, restoran, perhotelan, hingga perusahaan FMCG internasional.
Berdasarkan survei GMO Research pada Juli 2025, sebanyak 72 persen konsumen percaya perusahaan makanan seharusnya menggunakan telur cage-free dalam rantai pasoknya.
Selain itu, 55 persen konsumen mengaku lebih memilih merek makanan yang menggunakan 100 persen telur cage-free.
Saat ini, lebih dari 2.000 perusahaan makanan global telah berkomitmen menggunakan telur cage-free, termasuk KFC, Burger King, Nestlé, hingga jaringan hotel internasional seperti Marriott Hotels dan Hyatt.
Di Indonesia, sejumlah perusahaan seperti Superindo, Ismaya Group, serta Bali Buda juga mulai menerapkan kebijakan penggunaan telur cage-free.***









