Empat Atlet NPCI Kabupaten Tasikmalaya Borong Medali Asian Para Games Nagoya Jepang 2026

Ketua NPCI Kabupaten Tasikmalaya (kiri) difoto bersama para atlet usai pelaksanaan Asian Para Games Aichi Nagoya, Jepang 2026
banner 468x60

 

BERANDAKU.COM – Empat atlet disabilitas asal Kabupaten Tasikmalaya menorehkan prestasi membanggakan pada Asian Para Games Aichi-Nagoya 2026 di Jepang.

Setelah Asian Games 2026 di Aichi-Nagoya, Jepang, resmi berakhir pada 4 Oktober 2026, disusul dengan Asian Para Games 2026 yang baru saja selesai pada 24 Oktober 2026.

Keempat atlet NPCI Kabupaten Tasikmalaya tersebut, berhasil meraih enam medali. Antara lain, dua medali emas, dua medali perak, dan dua medali perunggu melalui cabang para bulu tangkis dan para atletik.

Namun, di balik capaian tersebut, dukungan Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya terhadap pembinaan olahraga disabilitas dinilai masih jauh dari kebutuhan.

Ketua National Paralympic Committee Indonesia (NPCI) Kabupaten Tasikmalaya, Ukun Rukaendi, menegaskan keberhasilan atlet menembus persaingan tingkat Asia merupakan bukti bahwa daerah memiliki potensi besar dalam olahraga disabilitas.

“Sayangnya, prestasi tersebut belum sepenuhnya diimbangi dengan dukungan anggaran, sarana latihan, serta apresiasi yang sepadan dari pemerintah daerah,” ujarnya, Kamis (29/10/2026).

Ukun menjelaskan, sejumlah atlet yang tercatat meraih medali pada Asian Para Games Aichi-Nagoya 2026 di antaranya Rina Marlina, Hikmat Ramdani, Dimas Tri Aji, dan Muhammad Ridho Alfares Putra.

Mereka menyumbangkan medali melalui nomor-nomor pertandingan para bulu tangkis dan para atletik.

Dalam daftar prestasi tersebut, Rina Marlina meraih medali emas pada nomor mixed doubles SH6 bersama pasangannya, serta medali perak pada nomor women’s doubles SH6 bersama pasangannya. Rina juga meraih medali perunggu pada nomor women’s singles SH6.

Sementara itu, Hikmat Ramdani meraih medali emas pada nomor mixed doubles SL3-SU5 bersama pasangannya. Pada nomor men’s doubles SH6, Dimas Tri Aji bersama pasangan menyumbangkan medali perunggu. Adapun Muhammad Ridho Alfares Putra meraih medali perak dari cabang para atletik.

Capaian tersebut menunjukkan kontribusi atlet disabilitas dalam mengharumkan nama Indonesia di kompetisi internasional.

Prestasi mereka sekaligus menjadi modal penting bagi pengembangan olahraga disabilitas di Kabupaten Tasikmalaya, terutama dalam menyiapkan regenerasi atlet dan memperluas pembinaan ke berbagai cabang olahraga.

Namun, bagi Ukun, keberhasilan meraih medali tidak boleh hanya menjadi kebanggaan sesaat. Prestasi tersebut semestinya menjadi momentum bagi pemerintah daerah untuk memperkuat dukungan terhadap atlet dan organisasi yang selama ini menjalankan pembinaan.

“Alhamdulillah, tradisi mempersembahkan medali emas untuk Indonesia maupun mengharumkan nama daerah masih bisa dipertahankan,” katanya.

Ini kata Ukun, membuktikan bahwa potensi atlet disabilitas Kabupaten Tasikmalaya sangat besar. Namun, perhatian pemerintah daerah terhadap pembinaan masih sangat minim dan jauh dari kebutuhan.

Ukun menjelaskan, keberhasilan atlet menembus kompetisi tingkat Asia bukan perkara mudah. Atlet harus melalui proses panjang, mulai dari penjaringan bibit, latihan berkelanjutan, persiapan fisik dan mental, hingga mengikuti seleksi untuk mendapatkan kesempatan bertanding di kejuaraan internasional.

Menurut dia, capaian tersebut tidak terlepas dari kerja keras atlet, peran pelatih, pendampingan pengurus, serta dukungan keluarga. Maka dari itu, pemerintah seharusnya melihat prestasi tersebut sebagai hasil pembinaan yang perlu dijaga dan dikembangkan secara berkelanjutan.

Ia menilai, dukungan yang tersedia selama ini belum sebanding dengan kebutuhan atlet, baik untuk latihan rutin maupun persiapan menghadapi kompetisi. Persoalan tersebut perlu menjadi perhatian bersama agar prestasi yang telah diraih tidak mengalami kemunduran.

“Ini kenyataan yang harus disampaikan. Dukungan yang ada masih jauh dari mencukupi kebutuhan pembinaan. Prestasi atlet sudah sampai tingkat Asia, tetapi dukungan yang diberikan belum seimbang dengan tingkat pencapaiannya,” tegasnya.

Ukun menekankan, kritik tersebut bukan berarti menafikan seluruh dukungan yang telah diberikan pemerintah.

Ia mengakui pembinaan tetap berjalan, termasuk melalui upaya penjaringan atlet dan pendampingan di daerah. Namun, menurutnya besaran dukungan dan kesinambungan program masih perlu diperbaiki.

Ia berharap Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya dapat mengevaluasi kebijakan pembinaan olahraga disabilitas, terutama dalam menentukan kebutuhan anggaran, penyediaan fasilitas latihan, serta penghargaan bagi atlet yang berhasil membawa nama Indonesia di tingkat internasional.

Selain dukungan pembinaan, Ukun menyoroti pentingnya kebijakan penghargaan bagi atlet yang berhasil meraih medali.

Menurutnya, apresiasi tidak semestinya diberikan secara seragam tanpa mempertimbangkan tingkat kejuaraan dan prestasi yang dicapai.

Keberhasilan meraih medali pada ajang tingkat Asia, kata dia, merupakan pencapaian yang membutuhkan pengorbanan besar.

Oleh karena itu, penghargaan dari pemerintah daerah perlu dirumuskan secara terukur dan proporsional.

“Untuk bertanding saja tidak mudah, apalagi sampai lolos dan meraih medali di tingkat Asia. Itu jenjang yang sangat tinggi. Makanya, apresiasi harus seimbang dan sesuai dengan tingkat prestasinya,” katanya.

Ukun menyebut pemerintah pusat memberikan bonus sebesar Rp 3 miliar bagi peraih medali emas dalam ajang trsebut.

Menurut Ukun, kebijakan tersebut menunjukkan pentingnya penghargaan bagi atlet yang telah berjuang membawa nama negara dan daerah.

Meski demikian, besaran dan ketentuan bonus harus mengacu pada regulasi resmi yang berlaku untuk setiap ajang dan kategori prestasi.

Ia berharap Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya dapat memiliki kebijakan apresiasi yang jelas, dengan mempertimbangkan kemampuan keuangan daerah serta tingkat pencapaian atlet.

“Harapannya, ada kebijakan yang seimbang dan sesuai dengan tingkat prestasi. Jangan sampai atlet sudah berjuang luar biasa, tetapi apresiasi yang diterima belum mencerminkan pencapaian mereka,” ujarnya.

Bagi Ukun, penghargaan bukan sekadar persoalan nominal bonus. Apresiasi juga menjadi bentuk pengakuan atas kerja keras atlet, sekaligus dorongan agar mereka tetap termotivasi menjalani pembinaan dan menghadapi kompetisi berikutnya.

Persoalan lain yang disoroti NPCI Kabupaten Tasikmalaya adalah keterbatasan sarana dan prasarana olahraga yang mendukung kebutuhan atlet disabilitas.

Ukun mengungkapkan, fasilitas latihan di daerah belum sepenuhnya mampu memenuhi kebutuhan pembinaan.

Padahal, setiap cabang olahraga memerlukan sarana, perlengkapan, dan metode latihan yang sesuai dengan karakteristik atlet.

Kondisi tersebut membuat upaya mempertahankan prestasi membutuhkan kerja lebih keras dari atlet, pelatih, dan pengurus.

Pembinaan tidak cukup hanya mengandalkan semangat, tetapi harus didukung fasilitas yang memadai agar kemampuan atlet dapat berkembang secara optimal.

“Kalau untuk sarana dan prasarana latihan di daerah, memang belum mendukung sepenuhnya. Kebutuhannya masih banyak. Pembinaan harus terus berjalan, tetapi dukungan fasilitas juga harus diperhatikan,” ucapnya.

Ia berharap kelanjutan pembangunan sarana olahraga di Kabupaten Tasikmalaya dapat menjadi kesempatan untuk memperbaiki kondisi tersebut.

Fasilitas yang tersedia nantinya diharapkan tidak hanya menunjang olahraga secara umum, tetapi juga memperhatikan aksesibilitas dan kebutuhan atlet penyandang disabilitas.

Menurut dia, pembangunan fasilitas olahraga harus diikuti dengan pengelolaan dan pemanfaatan yang jelas. Sarana yang dibangun perlu benar-benar dapat digunakan untuk latihan rutin, pembinaan atlet muda, dan persiapan menghadapi kejuaraan.

Ukun menilai, tanpa dukungan fasilitas dan anggaran yang memadai, upaya meningkatkan prestasi akan menghadapi kendala berulang.

Oleh karena itu, kebutuhan pembinaan harus dipetakan secara konkret agar kebijakan pemerintah benar-benar menyentuh persoalan yang dihadapi atlet.

Ukun juga menyoroti kondisi sosial ekonomi sebagian besar atlet yang berada dalam pembinaan NPCI Kabupaten Tasikmalaya.

Kata dia, banyak atlet berasal dari keluarga dengan kemampuan ekonomi terbatas sehingga harus menghadapi tantangan tambahan untuk tetap mengikuti latihan.

Kendala tersebut antara lain menyangkut transportasi, kebutuhan sehari-hari, serta perlengkapan yang dibutuhkan selama menjalani pembinaan.

Dalam sejumlah kondisi, atlet membutuhkan bantuan untuk menjangkau tempat latihan.

“Semangat anak-anak luar biasa. Banyak yang berasal dari keluarga kurang mampu. Ada yang harus dijemput, ada yang mengalami kesulitan transportasi untuk datang latihan,” katanya.

Jadi, pembinaan ini bukan hanya soal mengarahkan mereka berolahraga, tetapi juga bagaimana membantu agar mereka bisa terus berlatih dan berkembang.

Menurut Ukun, kondisi tersebut perlu menjadi pertimbangan dalam penyusunan program pembinaan. Atlet tidak seharusnya kehilangan kesempatan mengembangkan potensi hanya karena keterbatasan ekonomi dan fasilitas.

Ia menegaskan, dukungan terhadap atlet harus diberikan sejak tahap penjaringan bibit, selama proses latihan, hingga mereka mampu berkompetisi di tingkat yang lebih tinggi.

Pembinaan yang hanya berorientasi pada hasil akhir berisiko mengabaikan kebutuhan atlet yang sedang merintis prestasi.

Ukun berharap pemerintah daerah, NPCI, pelatih, keluarga, dan pemangku kepentingan lainnya dapat memperkuat kerja sama.

Dukungan yang terencana dinilai penting untuk memastikan atlet memiliki kesempatan berkembang secara berkelanjutan.

“Di tengah keterbatasan tersebut, NPCI Kabupaten Tasikmalaya tetap berupaya menjalankan pembinaan dan menyiapkan atlet potensial untuk masa depan,” ucapnya.

Keberhasilan atlet Kabupaten Tasikmalaya pada Asian Para Games Aichi-Nagoya 2026 menjadi bukti bahwa pembinaan olahraga disabilitas dapat menghasilkan prestasi di tingkat internasional.

Capaian tersebut sekaligus menunjukkan bahwa atlet membutuhkan dukungan yang sejalan dengan target prestasi yang ingin dicapai.

“Jangan memandang atlet disabilitas sebelah mata. Mereka punya kemampuan dan bisa membuktikan prestasi sampai tingkat internasional. Olahraga tidak membutuhkan banyak retorika, tetapi membutuhkan dukungan nyata, mulai dari fasilitas, perlengkapan, pembinaan, sampai apresiasi,” tegasnya.

Ia berharap aspirasi tersebut menjadi bahan evaluasi bagi Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya dalam menyusun kebijakan olahraga ke depan.

Perhatian yang lebih proporsional dapat membantu atlet menjaga motivasi, meningkatkan kualitas latihan, dan mempersiapkan diri menghadapi kompetisi selanjutnya.

Bagi NPCI Kabupaten Tasikmalaya,
mempertahankan tradisi medali harus berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas pembinaan.

Keberhasilan atlet bukan hanya menjadi kebanggaan individu atau organisasi, melainkan juga membawa nama daerah dan Indonesia di panggung internasional.

“Prestasi yang telah diraih perlu ditindaklanjuti dengan langkah konkret, mulai dari evaluasi anggaran, penyediaan fasilitas yang aksesibel, penguatan regenerasi, hingga perumusan kebijakan apresiasi yang jelas,” pungkasnya.

 

 

 

 

banner 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *