News  

Usai Upacara HUT RI, SOR Mangunreja Dipenuhi Sampah

banner 468x60

 

BERANDAKU.COM – Kawasan SOR Mangunreja di Desa Mangunreja, Kecamatan Mangunreja, Kabupaten Tasikmalaya, menjadi sorotan setelah pelaksanaan upacara peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI, Senin (17/8/2026).

Bukannya meninggalkan kesan positif, kegiatan tersebut justru menyisakan sampah yang berserakan.

Sampah berupa kertas, plastik hingga selongsong bambu bekas meriam bambu atau bedil lodong terlihat ditinggalkan begitu saja oleh peserta upacara setelah kegiatan selesai.

Ketua Paguyuban Patas Saninten, Dani Reksa Narada mendesak Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya melakukan evaluasi terhadap pengelolaan kebersihan setiap kegiatan yang digelar di kawasan tersebut.

Menurut Dani, dirinya tidak mempermasalahkan pelaksanaan upacara 17 Agustus yang digelar di SOR tersebut. Justru, ia mengapresiasi karena keberadaan SOR bisa kembali dimanfaatkan untuk kegiatan masyarakat.

“Alhamdulillah SOR ini dipakai upacara 17-an Kecamatan Mangunreja. Alhamdulillah terpakai, ternyata ada manfaatnya,” ujar Dani.

Namun, persoalan muncul setelah kegiatan berakhir. Dani mengaku prihatin melihat kondisi kawasan SOR yang dipenuhi sampah. Ia menyebut sampah yang ditinggalkan cukup beragam.

“Saya tidak akan membahas upacaranya, tidak akan membahas prosesi. Tapi membahas hasil akhir dari kegiatan tersebut,” ujarnya.

Dani menilai, kondisi tersebut menjadi ironi. Peserta datang ke SOR untuk memeriahkan peringatan kemerdekaan, tetapi setelah kegiatan justru meninggalkan persoalan kebersihan yang harus ditanggung masyarakat sekitar.

“Jauh-jauh datang ke sini untuk memeriahkan itu akhirnya malah menyampah,” katanya.

Menurutnya, masyarakat sekitar tidak ikut menikmati kegiatan secara langsung, tetapi justru harus menghadapi dampaknya.

“Tidak menyalakan api, tidak membakar, tapi kena getahnya. Yang membersihkan tetap saja orang-orang sekitar sini,” tegas Dani.

Ia meminta penyelenggara kegiatan maupun pemerintah tidak menganggap persoalan sampah sebagai masalah kecil.

Setiap kegiatan yang melibatkan banyak orang, kata dia, harus disertai dengan sistem pengelolaan sampah dan pembersihan lokasi setelah acara selesai.

Dani juga menyampaikan kritik terhadap perilaku sebagian masyarakat yang mengaku sebagai pendukung fanatik Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi atau KDM.

Menurutnya, semangat menjaga kebersihan seharusnya diwujudkan dalam perilaku nyata, bukan sebatas slogan atau identitas.

“Kebanyakan orang-orang itu mengaku, ‘Gua KDM garis keras’. Padahal KDM-nya sendiri sangat bersih sampai tukang sapu juga dibariskan ikut upacara di Gedung Sate,” ungkapnya.

Ia kemudian mempertanyakan perilaku pengikut yang masih membuang sampah sembarangan.

“Tapi pengikutnya coba lihat, menyampahnya saja sampai seperti ini, kotor sekali, jorok!” ujarnya.

Dani berharap kejadian tersebut menjadi evaluasi agar kegiatan serupa tidak kembali meninggalkan persoalan sampah.

Menurutnya, panitia perlu menyediakan tempat sampah yang memadai, mengatur petugas kebersihan serta memastikan lokasi kembali bersih setelah kegiatan berakhir.

Peserta juga harus memiliki kesadaran untuk tidak meninggalkan sampah sembarangan.

Ia mengingatkan, menjaga kebersihan lingkungan bukan hanya tugas petugas kebersihan atau masyarakat sekitar, tetapi merupakan tanggung jawab semua orang yang menggunakan kawasan tersebut.

“Apalagi ada keterangan yang bilang katanya ‘kebersihan itu sebagian dari iman’. Coba dong, kapan itu mau diaplikasikan ?” kata Dani.

Ia berharap SOR tetap bisa dimanfaatkan untuk kegiatan masyarakat, tetapi dengan tetap menjaga kelestarian dan kebersihan kawasan. “Jangan sampai masyarakat sekitar yang akhirnya harus membereskan semuanya,” pungkasnya. (Red)

banner 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *