BANTARKALONG, BERANDAKU. COM – Dampak runtuhnya dua ruangan kelas di SMPN 1 Bantarkalong, siswa terpaksa harus bergantian belajar di ruangan darurat yang disiapkan oleh guru dan pihak sekolah.
Saat ini walaupun Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Tasikmalaya sudah memasukkan perbaikan bangunan kelas yang ambruk ke bantuan program revitalisasi 2026, namun pembangunan belum dimulai.
Ketua Komite SMPN 1 Bantarkalong, Abah Unang, menerangkan kondisi pembelajaran siswa saat ini sambil menunggu perbaikan kelas yang ambruk oleh dinas pendidikan, sementara siswa belajar bergantian di kelas darurat bersama guru.
Menurut Unang, kelas darurat ini dilaksanakan agar siswa tetap mendapatkan haknya mendapatkan pembelajaran. Walaupun harapan sekolah ingin segera dibangun dan dapat perbaiki dua ruang kelas yang runtuh.
“Akhirnya sekolah memanfaatkan ruang kelas yang ada. Untuk ruangan yang dipakai belajar siswa adalah ruang kesenian dan IT. Jadi bergiliran bergantian belajarnya di ruang kelas darurat tersebut,” tutur Unang.
Sementara itu, dorongan hadir dari Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Bantarkalong. Mereka meminta Pemkab Tasikmalaya segera merealisasikan anggaran revitalisasi perbaikan di dinas pendidikan.
Ketua KNPI Bantarkalong, Reza meminta Pemkab Tasikmalaya respon cepat, dengan kondisi siswa yang memprihatinkan belajar di ruangan darurat.
“Pemerintah daerah harus hadir dan memberikan perhatian penuh terhadap dunia pendidikan. Sesuai amanat pembukaan UUD 1945. Termasuk di dalamnya ini bagian dari dinas pendidikan bagaimana pengawasan terhadap sekolah yang tidak hanya kurikulum,” dorong Reza.
Dia juga meminta dinas pendidikan melaksanakan pengawasan terhadap guru termasuk juga bangunan sekolah yang rusak, karena sarana prasarana infrastruktur merupakan penopang pendidikan maju.***









