DPR Minta Gubernur BI Mundur, Kurs Tembus Rp17.669 per Dolar AS

Pelemahan Rupiah Jadi Sorotan DPR, Bank Indonesia Diminta Segera Pulihkan Kepercayaan Pasar

banner 468x60

JAKARTA, BERANDAKU.COM – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus mengalami pelemahan dalam beberapa waktu terakhir.

Kondisi tersebut memicu sorotan dari kalangan legislatif, termasuk desakan agar Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mundur dari jabatannya.

Anggota Komisi XI DPR RI, Primus Yustisio, menilai pelemahan rupiah saat ini tidak bisa dianggap sebagai kondisi biasa. Menurutnya, tekanan terhadap rupiah terjadi tidak hanya terhadap dolar AS, tetapi juga terhadap sejumlah mata uang asing lainnya, termasuk euro.

Berdasarkan data Bloomberg di pasar spot exchange pada Senin (18/5/2026), nilai tukar rupiah berada di level Rp17.669 per dolar AS. Sementara terhadap euro, rupiah menyentuh angka Rp20.547 per euro.

Primus menyoroti perbandingan nilai tukar rupiah terhadap euro yang dinilainya mengalami tekanan signifikan dalam dua dekade terakhir.

Ia menyebut pada awal 2006, kurs rupiah terhadap euro masih berada di kisaran Rp7.000. Namun saat ini nilainya mendekati Rp20 ribu per euro.

“BI sudah mengenyampingkan kredibilitas dan pimpinan BI harus gentleman serta berani mengambil sikap. Pak Perry yang saya hormati, mungkin sekarang saatnya mengundurkan diri,” ujar Primus dalam rapat kerja DPR, Senin (18/5/2026).

Menurutnya, kondisi ekonomi nasional saat ini mengalami anomali. Di tengah pertumbuhan ekonomi triwulan I-2026 yang disebut mencapai 5,61 persen, nilai tukar rupiah justru mengalami tekanan cukup dalam.

“Ini harus dilihat secara realistis. Kita tidak bisa berdiam diri. Menurut saya pribadi, BI saat ini mulai kehilangan trust dan kredibilitas,” katanya.

Sorotan serupa juga disampaikan Anggota Komisi XI DPR RI, Charles Meikyansah. Ia mempertanyakan langkah Bank Indonesia dalam menghadapi pelemahan rupiah yang terus berlangsung dalam beberapa bulan terakhir.

Charles menilai kondisi cadangan devisa Indonesia memang masih relatif tinggi, namun tren penurunannya tetap perlu diwaspadai apabila tekanan terhadap rupiah terus berlanjut.

“Cadangan devisa kita memang masih tinggi, mencapai US$146,2 miliar. Tetapi pertanyaannya, seberapa cepat penurunannya jika tekanan rupiah terus berlangsung?” ujarnya.***

banner 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *