banner 728x250

Maraton Kaji Kitab Kuning, Santri Al-Munawar Jarnauziyyah Pusat Ngaji Hingga Tengah Malam

banner 468x60

BERANDAKU.COM – Ramadan di Pondok Pesantren Al-Munawar Jarnauziyyah Pusat bukan sekadar bulan ibadah. Di lingkungan pesantren yang berdiri sejak 1930 di Kampung Pasir Bokor, Kelurahan Cipawitra, Kecamatan Mangkubumi, Kota Tasikmalaya itu, Ramadan menjadi momentum “maraton ilmu” yang menuntut disiplin, daya tahan, dan ketekunan para santri.

Sejak usai salat subuh hingga menjelang tengah malam, puluhan santri laki-laki dan perempuan tenggelam dalam kajian kitab kuning. Aktivitas mereka hanya terjeda saat berbuka puasa dan menunaikan salat berjamaah.

Example 300x600

Pimpinan pondok pesantren, Dr. KH. Pepep Puad Muslim, menjelaskan bahwa Ramadan memang didesain sebagai bulan percepatan pembelajaran.

“Kalau di luar Ramadan satu kitab bisa selesai bertahap dalam setahun. Tapi saat Ramadan, kitab setebal 600 halaman harus tuntas dalam sebulan. Bahkan saya targetkan sebelum 20 Maret sudah selesai,” ujarnya.

Sistem pengajian dibagi berdasarkan tingkatan. Santri tingkat pertama umumnya setara SMP mengkaji kitab dasar seperti Jurumiyah dan Safinah. Tingkat kedua (SMA) memperdalam ilmu sharaf dan cabang lain. Sementara tingkat ketiga mahasiswa bahkan dosen difokuskan pada kajian tafsir, termasuk Tafsir Jalalain.

Pengajian malam hari digelar selepas Isya dan Tarawih, menggunakan metode klasik atau sistem logat, mencakup fikih, tasawuf, tauhid hingga tafsir. Pola ini, menurut Pepep, adalah warisan ajaran pendiri pesantren, KH. Muhammad Jarnauzi, yang tetap dipertahankan hingga kini.

“Ramadan itu suasananya berbeda. Sistemnya bisa berubah tiap tahun, tapi fokusnya tetap kitab kuning dan seluruh santri wajib ikut,” katanya.

Tak hanya belajar, tradisi kebersamaan juga menjadi ciri khas pesantren ini. Saat sahur dan berbuka, para santri makan bersama menggunakan nampan besar yang disebut ebleg. Laki-laki dan perempuan tetap dipisah tempatnya, namun suasana kebersamaan terasa kental di halaman masjid pesantren.

Menu sederhana seperti telur, daging, sayur, nasi putih hingga nasi liwet disantap bersama. Tradisi turun-temurun ini diyakini menanamkan nilai solidaritas dan kesederhanaan.

Bagi Marlina, salah satu santriwati, Ramadan justru menjadi bulan paling berkesan.

“Sejak habis subuh sampai malam kita mengaji. Pagi jam 8 sampai dzuhur, lanjut sampai ashar. Setelah tarawih mengaji lagi sampai jam 23.30. Capek, tapi seru,” katanya.

Ia menyebut, setiap kelas memiliki target kitab berbeda. Kelas satu bisa mempelajari hingga delapan kitab, kelas dua empat kitab, dan kelas tiga fokus satu kitab tafsir Al-Qur’an dengan target rampung sebelum 20 Ramadan.

Di tengah padatnya jadwal, Marlina mengaku justru belajar banyak hal di luar kitab: manajemen waktu, kedisiplinan, hingga kekompakan antar santri.

“Di sini kita bukan cuma belajar ilmu, tapi belajar hidup bersama,” ujarnya.

Ramadan di pesantren ini pada akhirnya bukan hanya tentang menamatkan ratusan halaman kitab, melainkan juga membentuk karakter. Di antara lembar-lembar kuning kitab klasik, para santri ditempa menjadi pribadi yang tekun, tangguh, dan terbiasa hidup dalam irama disiplin yang ketat. ***

banner 325x300
banner 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *