BERANDAKU.COM — Menanggapi pergeseran tren pasar global yang semakin memprioritaskan kesejahteraan hewan (animal welfare) dan keamanan pangan, buku panduan “Budi Daya Ayam Petelur Cage-Free Skala Komersial di Indonesia” resmi diterbitkan.
Buku ini menjadi panduan teknis pertama di tanah air yang fokus pada sistem produksi telur tanpa kandang sekat dalam skala industri.
Penerbitan buku ini menjadi sangat relevan mengingat lebih dari 2.300 perusahaan pangan dunia, termasuk raksasa ritel dan perhotelan seperti SuperIndo, Swiss-Belhotel, dan Ismaya Group, telah berkomitmen beralih ke penggunaan 100 persen telur cage-free.
Penulis buku, Sandi Dwiyanto dari Lever Foundation, menjelaskan bahwa karya ini disusun untuk menyediakan metode produksi yang efisien serta analisis ekonomi yang mendalam.
Penyusunannya pun melibatkan lintas sektoral, mulai dari Kementerian Pertanian, akademisi, hingga asosiasi peternak.
“Permintaan terhadap produk pangan yang lebih etis dan berkelanjutan terus meningkat. Sejalan dengan itu, Kementerian Pertanian juga telah menerbitkan Permentan Nomor 32 Tahun 2025 tentang Kesejahteraan Hewan guna memperkuat daya saing sektor pangan nasional,” ujar Sandi Dwiyanto, Jumat (27/3/2026).
Staf Ahli Menteri Pertanian RI Bidang Hilirisasi, Prof. Dr. Ir. Ali Agus, menekankan bahwa perubahan paradigma menuju sistem produksi yang memperhatikan kesejahteraan hewan adalah sebuah keniscayaan.
Menurutnya, negara-negara di Eropa, Amerika Serikat, hingga sejumlah negara ASEAN telah bergerak ke arah yang sama.
“Indonesia perlu memposisikan diri sebagai bagian dari transformasi ini, terutama ketika tuntutan pasar global terus menguat setiap tahunnya,” tegas Prof. Ali Agus dalam kata pengantar buku tersebut.
Senada dengan hal itu, Ketua Umum Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN) sekaligus Anggota Komisi IV DPR RI, Heri Dermawan, mengapresiasi kehadiran buku ini sebagai referensi teknis yang komprehensif.
Ia menilai buku ini mampu memberikan gambaran manajemen teknis hingga studi kasus yang dapat mendukung pengambilan keputusan strategis bagi peternak lokal.
Ketua Umum Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas (GPPU), Achmad Dawami, menyoroti bahwa transisi ini membuka peluang bagi sektor perunggasan Indonesia untuk mengakses segmen pasar baru di rantai pasok global.
Namun, ia mengingatkan agar transisi tetap menjaga efisiensi produksi dan kondisi pasar domestik secara realistis.
Dukungan publik terhadap sistem ini pun kian nyata. Hasil survei Lever Foundation bersama GMO Research pada Juli 2025 menunjukkan bahwa 72 persen konsumen berpendapat bahwa hotel, restoran, dan supermarket seharusnya hanya menggunakan telur cage-free.
Bahkan, 55 persen konsumen menyatakan lebih cenderung memilih merek makanan yang berkomitmen pada standar tersebut.
Buku panduan ini kini dapat diakses secara gratis melalui laman resmi Pertanian Press.
Kehadirannya diharapkan menjadi katalisator bagi peternak Indonesia untuk menavigasi proses transisi menuju sistem produksi yang lebih berkelanjutan, aman, dan memiliki daya saing tinggi di level internasional.***













