BERCANDAKU.COM – Gerakan Membangun Desa (GERMADES) menanggapi polemik pernyataan eks Ketua BEM UGM, Tiyo, yang menyebut Presiden Republik Indonesia dengan istilah bernada penghinaan.
Organisasi tersebut menilai kritik terhadap pemerintah merupakan bagian penting dari demokrasi, namun harus disampaikan secara beretika dan berlandaskan argumentasi yang kuat.
Ketua GERMADES, Ragil Andara, menegaskan bahwa kebebasan berekspresi merupakan hak setiap warga negara.
Meski demikian, kebebasan tersebut harus dibarengi dengan tanggung jawab moral dan intelektual agar tidak menggeser fokus pembahasan dari substansi kritik menjadi polemik bahasa.
“Kami menghormati kebebasan berekspresi dan hak setiap warga negara untuk mengkritik pemerintah. Akan tetapi, kebebasan tersebut harus dibarengi dengan tanggung jawab moral dan intelektual. Kritik yang baik adalah kritik yang mampu menawarkan gagasan, bukan sekadar melontarkan penghinaan,” ujar Ragil Andara, Senin (15/6/2026).
Menurutnya, mahasiswa selama ini dikenal sebagai kelompok intelektual yang memiliki peran strategis sebagai kekuatan moral sekaligus kontrol sosial.
Karena itu, penyampaian kritik seharusnya menjadi ruang untuk menghadirkan solusi, bukan memperkeruh suasana melalui serangan personal.
GERMADES berpandangan bahwa berbagai kebijakan pemerintah tetap dapat dikritisi apabila dinilai tidak berpihak kepada kepentingan masyarakat.
Namun, kritik tersebut idealnya diarahkan pada kebijakan, program, maupun keputusan politik yang dapat diuji secara akademik dan objektif.
“Kita boleh berbeda pandangan terhadap pemerintah, tetapi jangan sampai perbedaan itu menghilangkan etika dalam berkomunikasi. Bangsa ini membutuhkan adu gagasan, bukan adu ejekan. Demokrasi akan tumbuh sehat apabila kritik dibangun di atas argumentasi yang kuat dan sikap yang beradab,” tambah Ragil.
Lebih lanjut, GERMADES mengajak mahasiswa dan generasi muda untuk membangun budaya dialog yang konstruktif dalam menyikapi berbagai persoalan bangsa.
Organisasi tersebut menilai energi intelektual seharusnya diarahkan pada penyelesaian masalah nyata, seperti pembangunan desa, ketimpangan sosial, hingga persoalan pengangguran.
Sebagai organisasi yang bergerak di bidang pembangunan desa dan pemberdayaan masyarakat, GERMADES menegaskan komitmennya untuk terus mendorong demokrasi yang sehat, kritis, dan tetap menjunjung tinggi etika dalam penyampaian pendapat.
“Kritik yang tajam adalah bagian dari demokrasi. Namun, etika adalah fondasi yang menjaga demokrasi tetap bermartabat,” tutup Ragil Andara.***









